Karena kau perempuan
Kau hanya bisa duduk terpetung mendengar semua perintah
Kau hanya mendengar apa kata-kata yang masuk di telingamu
Kau hanya harus mengangguk  setuju tanpa tahu apa dan mengapa?
Kau hanya harus meng-iyakan beribu macam suruhan-suruhan

Karena kau perempuan
Kau hanya bisa menangis ketika hatimu sudah tidak dapat menerima
Karena hak-hak mu untuk berpendapat, beralasan, berujar, sudah tidak diterima
Kau hanya bisa pasrah menerima tuduhan-tuduhan yang dilayangkan atasmu
Kau harus menerima nasib yang sudah digoreskan di tangan mu

Karena kau perempuan
Kau harus terkungkung oleh kuatnya tangan lelaki
Kau mesti mengunci mulutmu rapat-rapat dari pendapatmu
Kau hanya perlu mengerjakan tugas-tugasmu, tanpa henti
Kau hanya perlu menatap kosong ke depan tentang garis tangan sebagai perempuan

Karena aku perempuan
Dan aku hanya bisa menangis ketika semuanya kutuliskan di atas

Makassar, 4 september 2008
00:06, sesaat setelah nasibku kuterima