ketika tiba pada suatu saat yang tidak kuketahui kapan berakhir dan dimana ujungnya. aku tidak dapat membayangkan bagaimana diriku pabila dia tidak disisiku lagi, dia tidak menyentil ruang disudut hatiku. aku benar-benar terpaut padanya, bagaikan jalinan benang wol yang telah terjalin menjadi sebuah bahan rajutan, susah untuk terlepas dan melepaskan. kata-kata semanis madu yang hingga saat ini masih terus kuteguk, tiada pengharapan satu pun untuk merubah madu menjadi air empedu.

teringat ketika awal kami saling berkenalan..tak ada sedikit rasa yang istimewa untuknya. bahkan dengan bangganya aku menceritakan semua kisah yang pernah ada dalam hidupku padanya. tak ada rasa canggung sedikitpun. hingga tiba hari dimana dia mengakui semua, dan memintaku untuk tidak pernah menghubunginya. TUHAN..apa salah ku………

kuturuti maunya, hingga keduanya dari kita mengakui, tidak tahan dengan kebisuan yang terlalu lama. permulaan yang bagus menurutku..

tanggal 7 januari 2008 pukul 20.05 WITA, seuntai kata mengalir dari mulutnya “ana menyukai anti“. deg..deg..deg..deg..deg..y Allah apalagi ini. sudah cukup aku menjalani hubungan yang tidak jelas, dan aku tak ingin hal ini terulang untuk kesekian kalinya. dia mencoba meyakinkanku bahwa ketakutan ku selama ini tak cukup beralasan. dia mampu merubah perasaan beku tersebut menjadi cinta yang mungkin tak mampu kudefenisikan.

kepalaku mengangguk tanda mengiyakan ajakannya, meski ku tahu dia tak mungkin bisa melihat anggukan kepalaku. kuiyakan dengan perasaan hampa sama sekali kepadanya. dengan perasaan yang tidak menentu kukatakan padanya “akh, ajari aku mencintaimu”…..

dan kini..satu harapan yang terus menunggu siraman kepastian. akankah itu menjadi kenyataan????????